Keterampilan
Menulis Praktis
“Resensi
Buku”
Diajukan untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing : Siti
Widharetno Mursalim, S.Ip., M.Si
Disusun oleh :
Iqbal Noor Iman M (1158020148)
Indra S (1158020142)
Irhanda Priatna (1158020152)
Joko Ahmad J (1158020157)
Khaidir Wasilah (1158020163)
Kiki Nur Rizki (1158020164)
Karni Sulastri (1158020160)
Kartika Kirana (1158020161)
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah s.w.t, bahwa penulis telah menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia dalam bentuk makalah yang berjudul “Keterampilan Menulis Praktis .”
Dalam penyusunan tugas ini,
tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun penulis menyadari bahwa kelancaran
dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan.
Sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi, oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih.
Penulis mengucapkan terima
kasih kepada pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan dan bantuan dalam penyusunan
makalah ini, diantaranya kepada :
1.
Ibu Siti Widharetno, S.Ip., M.Si, selaku Dosen dari mata
kuliah Bahasa Indonesia.
2.
Kedua orang tua yang telah memberikan dorongan,
baik secara moril maupun materil.
3.
Semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah
ini.
Dalam penyusunan tugas makalah ini penulis masih merasa
banyak kekurangan baik pada teknis maupun materi, mengingat akan kemampuan yang
penulis miliki untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan
demi penyempurnaan penyusunan makalah ini.
Bandung,
November 2015
Penulis
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................... 1
1.2 RumusanMasalah............................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................ 2
1.4 Manfaat Penulisan.............................................................................. 2
1.5 Sistematika Penulisan......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Keterampilan Menulis.......................................................... 3
2.2 Definisi Resensi................................................................................. 3
2.3 Persyaratan dan kriteria buku yang akan
di resensi........................... 9
2.4 Tujuan Pembuatan Resensi............................................................... 10
2.5 Jenia-jenis Resensi............................................................................ 10
2.6 Macam-macam pola penulisan resensi.............................................. 11
2.7 Hal-hal yang patut dinilai dalam resensi
buku................................. 13
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan............................................................................................ 22
3.2 Saran.................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menulis adalah kegiatan
penyampaian pesan (gagasan, perasaan, atau informasi) secara tertulis kepada
pihak lain. Tidak banyak orang yang suka menulis. Di antara penyebabnya ialah
karena orang merasa tidak berbakat serta tidak tahu bagaimana dan untuk apa
menulis. Alasan itu sebenarnya tak terlepas dari pengalaman belajar yang
dialaminya di sekolah. Lemahnya guru, kurangnya model, dan kekeliruan dalam
belajar menulis yang melahirkan mitos-mitos tentang menulis, memperparah
keengganan orang untuk menulis.
Menulis bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk
memulai menulis, orang tidak perlu menunggu menjadi penulis yang terampil.
Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk memraktikkannya tidak cukup
sekali dua kali. Frekuensi pelatihan menulis akan menjadikan seseorang terampil
dalam bidang tulis-menulis.
Oleh karenanya, perlu kita pelajari seberapa penting keterampilan menulis
itu sendiri dan juga materi-materi yang memerlukan keterampilan menulis dalam
mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan keterampilan
menulis?
2. Apa definisi dari resensi ?
3. Apa persyaratan dan kriteria buku yang
akan diresensi ?
4. Apa tujuan pembuatan resensi?
5. Apa jenis-jenis resensi?
6. Bagaimana pola penulisan resensi ?
7. Apa saja hal-hal yang patut dinilai
dalam resensi ?
Tujuan penulisan ini
di bagi menjadi 2 yaitu, tujuan umum dan khusus:
a)
Tujuan Umum
·
Untuk mengetahui pengertian
keterampilan menulis.
·
Untuk mengetahui
definisi resensi.
·
Untuk mengetahui
persyaratan dan kriteria buku yang akan diresensi.
·
Untuk mengetahui
tujuan pembuatan resensi.
·
Untuk mengetahui
jenis-jenis resensi.
·
Untuk mengetahui
macam-macam pola penulisan resensi.
b)
Tujuan Khusus
Menyelesaikan tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia tentang Keterampilan Menulis Praktis “Resensi Buku”.
1.4 Manfaat Penulisan
1.5 Sistematika
Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang : Latar
belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika
penulisan.
BAB II PEMBAHASAN
Berisi tentang : Pembahasan mengenai
Keterampilan Menulis Praktis “Resensi Buku.”
BAB III PENUTUP
Berisitentang : Simpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis sebagai
salah satu cara dari empat keterampilan berbahasa mempunyai peranan yang
penting di dalam kehidupan manusia. Dengan menulis, seseorang dapat
mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya. Seperti
yang dikatakan oleh H.G. Tarigan bahwa menulis ialah menurunkan atau
melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami
oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik
tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut (H.G.
Tarigan, 1983;21). Sedangkan Robert Lado mengatakan bahwa: " To Write
is to put down the graphic symbols that represent a language one understands,
so that other can read these graphic representation" (Robert Lado,
1971;143).
Dapat diartikan bahwa menulis
adalah menempatkan simbol-simbol grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang
dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami
bahasa tersebut beserta simbol-simbol grafisnya.
Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan
perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan bahwa menulis adalah
berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain
secara tertulis (Suriamiharja, 1985: 2). Selanjutnya, juga dapat diartikan
bahwa menulis adalah menjelmakan bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan
pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan, dan
sebagainya.
Kesimpulan yang dapat diambil dari teori di
atas, yaitu bahwa keterampilan menulis adalah kemampuan seseorang dalam
melukiskan lambang grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri
maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol
bahasa tersebut. Jadi, dapat dilihat bahwa tujuan dari menulis adalah agar
tulisan yang dibuat dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain yang mempunyai
kesamaan pengertian terhadap bahasa yang dipergunakan. Dengan demikian,
keterampilan menulis menjadi salah satu cara berkomunikasi, karena dalam
pengertian tersebut muncul satu kesan adanya pengiriman dan penerimaan pesan.
Sehingga di sini dapat dikatakan bahwa menulis mmerupakan salah satu cara
berkomunikasi secara tertulis, di samping adanya komunikasi secara lisan.
Karena pada umumnya tidak semua orang dapat mengungkapkan perasaan dan maksud
secara lisan saja.
2.2 Definisi Resensi
Resensi
(bahasa Belanda, receinsie) atau “review” (bahasa Inggris). Resensi sendiri
berasal dari bahasa Latin revidere dan resence, artinya melihat kembali,
menimbang, atau menilai. Di Indonesia resensi sering juga diistilahkan dengan
timbangan buku, tinjauan buku, dan bedah buku. Adapun menurut Webster
Collegate Dictionary (1995), review adalah a critical evaluation of a
book, karena itu pada hakikatnya resensi haruslah menjelaskan apa adanya
suatu buku: kelebihan dan kekurangan buku itu. Jadi, resensi bukanlah tulisan
yang menjual buku. Tidak ada sponsor bagi resensi buku, karena itu resensi yang
baik hanya mengungkapkan apa yang dibaca oleh peresensi secara kritis.
(internet: Dasar-dasar meresensi buku).
Resensi adalah suatu tulisan atau
ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Resensi adalah suatu jenis
karangan yang berisi pertimbangan baik atau buruknya suatu karya.
Sebelum kami membahas mengenai
resensi, ada baiknya kami ulas resensi secara bahasa yakni resensi berasal dari
bahasa Belanda “Recensie”.Dalam bahasa Inggris dikenal dengan “Review”.Kata
tersebut beerasal dari bahasa Latin “Revidere” dan “Resence”,
artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai.Di negeri kita, resensi sering
diistilahkan dengan timbangan, tinjauan, atau bedah buku.
Adapun menurut istilah kami akan
menyampaikannya dari berbagai referensi yang kami dapat seperti :
a. Webster Collegate Dictionary
(1995), review adalah a critical evaluation of a book, karena itu pada
hakikatnya resensi haruslah menjelaskan apa adanya suatu buku: kelebihan dan
kekurangan buku itu. Jadi, resensi bukanlah tulisan yang menjual buku. Tidak
ada sponsor bagi resensi buku, karena itu resensi yang baik hanya mengungkapkan
apa yang dibaca oleh peresensi secara kritis.
b. Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan
mengenai sebuah hasil karya atau buku, baik berupa buku fiksi dan non fiksi.
c. Resensi
buku adalah pertimbangan atau ulasan tentang sebuah buku yang bertujuan memberitahukan
kepada pembaca perihal buku-buku baru dan ulasan kelebihan maupun kekuragan
buku tersebut.
Resensi buku adalah pertimbangan
atau ulasan tentang sebuah buku dengan tujuan untuk memberitahu kepada pembaca
perihal buku-buku baru dan ulasan kelebihan maupun kekurangan buku tersebut.
Resensi bertujuan untuk menyampaikan
kepada pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan
dari masyarakat atau tidak.Bertolak dari tujuannya, resensi bermanfaat bagi
para pembaca untuk menentukan perlu tidaknya membaca buku tertentu atau
pertimbangan atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni.Dalam arti
lebih luas, resensi dibuat juga untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan
terhadap karya-karya seni lainnya seperti drama, film, dan sebuah pementasan.
Karena pertimbangan yang disampaikan
penulis resensi itu harus disesuaikan dengan selera pembaca, maka sebuah
resensi yang disiarkan sebuah majalah mungkin tidak sama dengan yang disiarkan
pada majalah lain.
Menurut Mortimer J. Adler dan
Charles Van Doren, dalam bukunya yang berjudul How to Read a Book, kedua
orang ini memperkenalkan bagaimana prosedur membaca buku yang baik:
1. Membaca permulaan: Kemampuan untuk
mengenal huruf, kata, dan kalimat.
2. Membaca inspeksional: Kemampuan untuk membaca
sekilas. Membaca sinopsisnya, kata pengantarnya , daftar isi, judul tiap-tiap
bab yang dianggap menarik, serta lampiran yang ada didalamnya. Langkah ini
memudahkan kita untuk memahami garis besar isi buku.
3. Membaca analisis : Kemampuan untuk
menilai buku. Mulai dari memetakan apakah buku yang kita baca itu teori atau
praktik. Setelah membaca keseluruhan isi buku, dapat membuat ringkasan dari isi
buku dengan beberapa kalimat, mencatat hal-hal penting dalam hidup tersebut,
termasuk informasi penulisannya. Semua ini sebagai bekal dan amunisi untuk
membuat resensi nantinya.
Untuk menulis resensi,
kita harus memerhatikan dari sisi latar belakang dan nilai buku.
a. Latar Belakang
Agar resensi bermanfaat
bagi para pembaca, maka penulis mulai menyajikan resensi dengan latar belakang
buku itu.Penulis dapat mulai dengan mengemukakaan tema dari karangan buku itu.
Penulis dapat mulai dengan mengemukakan tema
dari karangan buku tersebut. Penyajian tema secara singkat itu dapat
dilengkapi dengan deskripsi buku tersebut, sehingga para pembaca yang belum
tahu dapat memperoleh gambaran mengenai isi buku tersebut.
Deskripsi buku tersebut
bukan hanya menyangkut isinya tetapi juga dapat menyangkut badan mana yang
menerbitkan buku itu, kapan dan dimana diterbitkan, berapa tebalnya, dan
formatnya. Penulis resensi juga dapat memperkenalkan pengarangnya: namanya,
ketenaran yang diperolehnya, buku atau karya mana yang telah ditulisnya, atau
mengapa ia sampai menulis buku.
Ini merupakan
meresensi yang paling mudah.Kita tidak perlu membaca isi buku secara
keseluruhan dan mendalam.Kita hanya melaporkan yang tampak mengenalisis isinya.
Tujuan dari meresensi buku dengan cara ini, hanya sekedar memperkenalkan buku
secara sekilas kepada para pembaca. Tetapi tetap dikemukakan mengenai kekurangan
dan kelebihannya agar tidak dianggap hanya sekedar “iklan buku”.
a. Macam dan jenis buku
Para pembaca
memiliki sselera yang berbeda.Oleh karena itu, penulis resensi harus mem buat
klasifikasi mengenai buku teersebut. Dengan memasukannya kedalam kelas buku
tersebut, akan mudah menunjukkan persamaan dan perbedaan dari buku-buku lain
termasuk dalam kelompok yang sama sehingga pembaca akan tertarik untuk
membacanya dan ingin mengetahui lebih lanjut mengenai isi buku tersebut.
b. Keunggulan Buku
Untuk memberikan
evaluasi terhadap buku tersebut yaitu dengan cara mengemukakan segi-segi yang
menarik dari buku tersebut. Mengenai keunggulan buku, penulis resensi
pertama-tama memoersoalkan organisasinya. Yang dimaksud organisasi yaitu
kerangka buku itu, hubungan antarsatu
bagian dengan bagian yang lain. Yang kedua untuk menlai dari dekat sebuah buku,
penulis resensi juga mempersoalkan bagaimana isinya.Hal yang ketiga dari
masalah buku yaitu bahasa yang digunakan.Ada yang berpendapat bahwa yang
penting isinya, bahasa tidak penting.Tetapi bagaimana mungkin pembaca dapat
memahami isi buku tersebut jika bahasa yang digunakan tidak dapat dimengerti.
Hal yang
terakhir yang dapat dikemukakan penulis resensi dalam memberikan penilaiannya
yaitu mengenai masalah teknik. Masalah teknik di sini ialah masalah tampilannya
dlam segala sesuatu yang menyangkut perwajahan(layout), kebersihan dan
percetakannya. Hal ini sangat penting karena kesalahan dalam mencetak kata-kata
atau menempatkan tanda baca dapat
mengganggu pembaca.
Seorang penulis resensi harus berusaha
dengan tepat menunjukkankeunggulan buku itu dengan memberikan penilsisn
langsung,dengan memberi kutipan-kutipan yang tepat dan menunjukkan pertalian
yang kompak antara bagian-bagiannya.Menilai sebuah buku berarti memberi saran
kepada para pembaca untuk menolakatau menerima kehadiran buku tersebut.Penulis
resensi harus tetapberusaha untuk memberi kesan kepada pembaca bahwa penilainnya
secara jujur dan objektif.
c. Menilai buku
Dengan
memberikangambaran mengenai latar belakang dan mengeukakan pokok-pokok yang
menjadi sasaran, penilaian, penulis resensi sebenarnya telah memberikan
pendapatnya mengenai nilai buku itu.Mengkritik berarti memberi pertimbangan,
menilai, dan menunjukkan kelebihan-kelebihan buku itu.Tugas pokok penulis
resensi yaitu memberi sugesti kepada para pembaca apakah sebuah buku patut
dibaca atau tidak.
Tujuan utama cara ini
ialah menilai suatu buku. Membuat penilaian dengan sungguh-sungguh tentang isi
buku. Membuat nilai secara jujur dan objektif terhadap sebuah buku,
menganalisis tujuan penulisan buku, kulifikasi penulisnya , serta
membandingkannya dengan buku-buku lain.
Sebelum menulis
resensi, seseorang harus membaca buku yang akan diresensi secara utuh. Di bawah
ini, beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman penyusunan resensi yaitu:
·
Penulis
resensi harus mengetahui jenis buku yang akan diresensi;
·
Sebutkan
keunggulan buku tersebut;
·
Dimanakah
letak kelebihan buku tersebut; pada penyampaiannya, plotnya, bahasanya,
gambaran latarnya, penusunannya, atau isinya;
·
Sebutkan
kelebiahan dan kelemahannya. Memberikan kritik berarti memberikan
pertimbangan-pertimbangan ; dan
·
Berikan
bukti atas komentar atau pertimbangan dengan mengutip kata atau kalimat yang
dibicarakan.
Untuk mempermudah
menyusun resensi, petunjuk teknis dibawah ini adalah sebagai berikut :
a. Bacalah buku secara global, untuk
mengetahui sekilas dan secara cepat isi buku yang akan direensi;
b. Bacalah buku tersebut untuk kedua
kalinya dan mencatat hal-hal yang akan diungkapkan dalam resensi;
c. Tulislah kesan yang timbul setelah
membaca buku, kesan tersebut dapat dijadikan judul resensi; dan
d. Mulailah menulis resensi.
Caranya sebagai
berikut:
·
Tulisah
judul resensi;
·
Tulislah
judul yang akan diresensi;
·
Jika
buku tersebut merupakan buku terjemahan, tulislah judul dan pengarang aslinya,
serta penerjemahannya;
·
Tulislah
tebal buku/jumlah halaman;
·
Tuislah
tubuh resensi;
·
Sebutkan
jenis buku yang diresensi;
·
Sebutkan
pokok persoalan dalam buku tersebut;
·
Tulislah
alur ceritanya;
·
Tulislah
kesan atau ulasan alur tersebut;
e. Tinjauan Fiksi (the fiction review)
Ini
adalah cara meresensi yang bisa digunakan dalam buku-buku fiksi. Selaim harus
menguasai isi buku, peresensi juga harus mencari pertimbangan antara jalan
cerita (Plot, synopsis) dan tema cerita. Kadang dipaparkan juga tentang proses
kreatif pembuatan karya oleh penulis buku itu sementara buku itu sendiri hanya
dipaparkan sekilas saja.
Perbedaan
antara resensi buku dan resensi film terletak pada latar belakangnya saja. Jika
pada resensi buku jumlah halaman/tebal buku, isi buku dan tempat terbitnya,
maka pada resensi film terdapat berapa lama film tersebut( durasi waktunya),
dan harga dari film tersebut. Dari segi isi, antara resensi film dan resensi
tidak ada perbedaan.
2.3 Persyaratan dan
kriteria buku yang akan diresensi
Untuk
keperluan resensi buku di media masa, buku yang mau diresensi sebaiknya buku
baru, jangan buku lama,meskipun resensi sebetulnya bisa dilakukan terhadap buku
apa saja dan terbitan tahun berapa saja. Jika resensi dilakukan pada tahun
2005, buku yang diresensi sebaiknya buku terbitan 2005 juga. Hal ini dilakukan
karena media massa mementingkan aspek akualitas.
Buku yang akan diresensi sebaiknya
juga buku yang cukup baik dan layak dibaca. Pembaca tidak mau membuang-buang
waktu untuk membaca resensi terhadap sebuah buku yang secara pengamatan
selintas saja sudah terlihat betul-betul bernilai. Pengelola media masa juga
tidak mau menyisihkan ruang di media masanya untuk buku semacam itu, karena
masih banyak buku lain yang jauh lebih bermutu. Buku yang akan
diresensi sebaiknya buku yang isinya memang kita anggap penting diketahui
pembaca/masyarakat. Buat apa masyarakat disodori buku yang isinya tidak
berkaitan dengan kepentingan mereka.
Ada bagusnya, jika topik /tema buku
yang diresensi memiliki relevan dengan konteks situasi yang berkembang. Sebagai
contoh : ketika sedang ramai-ramainya aksi pengeboman militer Amerika Serikat
terhadap Afganistan, dengan dalih mencari tersangka teroris Osama Bin Laden,
November 2001, harian Kompas membuat resensi buku tentang Osama Bin
Laden. Aspek kontekstualitas ini penting bagi media masa.
2.4 Tujuan pembuatan resensi
Adapun penulisan resensi
ditujukan dengan tujuan sebagai berikut:
ü Menyampaikan informasi kepada pembaca
apakah sebuah karya patut membuat sambutan atau tidak.
ü Menunjukkan kepada para pembaca layak
tidaknya sebuah buku dibaca.
ü
Memberitahukan
kepada pembaca perihal buku-buku baru dan ulasan kelebihan maupun kekurangan
buku tersebut.
ü
Mengetahui
latar belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan.
ü
Menguji
kualitas buku dengan membandingkan terhadap karya dari penulis yang sama atau
penulis lainnya.
ü
Memberi masukan kepada penulis buku berupa kritik dan saran terhadap cara
penulisan, isi, dan substansi buku.
2.5 Jenis-jenis Resensi
Secara garis besar resensi dibagi
menjadi tiga jenis, yaitu:
a.
Resensi Informatif, yaitu resensi yang hanya menyampaikan isi dari secara singkat
dan umum dari keseluruhan isi buku.
b.
Resensi Deskriptif, yaitu resensi yang membahas secara detail pada tiap bagian
atau babnya.
c.
Resensi Kritis, yaitu resensi yang berbentuk ulasan detail dengan metodologi ilmu
pengetahuan tertentu. Isi dari resensi biasanya kritis dan objektif dalam
menilai isi buku.
Namun, ketiga jenis resensi di
atas tidak baku karena bisa saja dalam sebuah resensi ketiganya diterapkan
secara bersamaan.
2.6 Macam-macam pola penulisan
resensi
Tidak ada pedoman baku dalam
penulisan resensi. Namun secara kasar, penulisan resensi untuk media masa
mengikuti konvensi umum seperti dalam penulisan artikel lain. Unsur-unsurnya
sebagai berikut:
·
Judul
resensi yang menarik. Di media masa, judul yang menarik(eye-catching) ini perlu
dan mutlak. Deskripsi judu buku, nama pengarang(penyunting), nama penerbit,
tahun terbit, kota tempat penerbitan,
jumlah halaman, dan harga buku(boleh dicantumkan boleh juga tidak). Ini
disebut heading dan biasanya dicantumkan diawal resensi, misalnya:
Makna Cinta dan Perkawinan di Era Globalisasi, Dian Kencana Dewi, Bandung:
Unpad press,2005,vii+237 hlm.
·
Alinea
pembuka(dalam teknik penulisan berita, disebut sebagai lead).
Alinea
pembuka atau lead ini berfungsi sebagai pemancing agar pembaca mau membaca
resensi, maka lead,peresensi, misalnya, mampu mengaitkan isi buku dengan
konteks situasi yang sedang hangat di masyarakat misalnya: buku bertema tentang
korupsi diterbitkan ketika sedang ramai-ramainya pengadilan kasus korupsi terhadap
seorang pejabat tinggi. Lead bersama judul berfungsi penting sebagai
penarik minat pembaca.
·
Deskripsi
atau rangkuman tentang isi buku. Di sini peresensi mungkin merangkum isi atau
esensi buku secara ringkas. Tentu saja, pembaca tidak dapat menilai suatu buku
jika gambaran ringkas isinya pun ia belum mengetahuinya. Dalam merangkum
tentang isi buku, peresensi boleh mengutip satu atau dua kalimat atau alinea
yang menarik dari buku untuk memperjelas gambaran isinya.
·
Komentar,
evaluasi, dan penilaian. Inilah esensi dari suatu resensi, yakni perensi
mengomentari dan menilai suatu buku dari berbagai aspek: aspek luar da nisi.
Karena keterbatasan ruang dimedia cetak, tentu tidak perlu seluruh aspek ini
dibahas secara perinci. Peresensi boleh memilih aspek-aspek mana yang
menurutnya paling penting untuk diulas dan disampaikan kepada pembaca.
·
Kalimat
penutup dan rekomendasi. Dalam kalimat penutup ini, peresensi kadang-kadang
secara tegas merekomendasikan bahwa buku bersangkutan memang layak atau tidak
layak dibaca. Kadang-kadang, rekomendasi tegas semacam itu tidak diungkapkan,
karena pembaca dianggap telah dapat menyimpulkan sendiri berdasarkan ulasan
panjang sebelumnya.
·
Identitas
peresensi sering juga dicantumkan di bagian akhir resensi. Manfaatnya yaitu
untuk menunjukkan kredibilitas peresensi dalam meresensi buku bertema tertentu,
misalnya, di akhir sebuah peresensi tentang buku kehumasan, identitas peresensi
disebutkan : Dian Eka Puspita Sari, Staf Humas Trans Tv. Artinnya, peresensi
ingin menunjukkan bahwa ia merupakan praktisi humas dan karena itu memiliki
cukup kompetensi untuk meresensi buku bertema kehumasan.
Menurut Daniel Samad dalam
bukunya yang berjudul Dasar-dasar Meresensi.Buku ini pada hakikatnya
mengungkapkan langkah-langkah meresensi buku, baik yang berupa fiksi maupun
nonfiksisama, kalaupun ada perbedaan itu disebabkan materi yang membangunnya
terlebih lagi buku-buku fiksi yang memiliki unsur dan konvensi yang khas.
Langkah-langkah meresensi buku:
·
Penjajakan
atau pengenalan terhadap buku yang diresensi.
·
Membaca buku
yang akan diresensi secara kompetitif, cermat dan teliti.
·
Menandai
bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian
yang dikutip untuk dijadikan data.
·
Membuat
synopsis atau inti sari dari buku yang akan diresensi.
2.7 Hal- hal
yang patut dinilai dalam resensi buku
1.
Aspek luar,
misalnya :
a.
Perwajahan
kulit muka. Apakah kulit mukanya enak dipandang dan menarik?
b.
Berat dan
ketebalan. Apakah ukuran buku ini terlalu besar atau justru terlalu kecil?
Apakah terlalu berat, tebal, atau ringan, dan tipis ?
c.
Desain
halaman dalam. Apakah desainnya menarik sehingga enak dipandang atau malah
membosankan ?
d.
Jenis kertas
yang digunakan. Apakah jenis kertasnya (kertas koran, HVS, art papper, kertas
daur ulang berwarna terang atau suram) ? Apakah terlalu berat atau ringan?
Apakah kuat atau rapuh?
e.
Jenis
huruf/tifografi yang digunakan. Apakah tipografi yang digunakan terlalu kecil,
sehingga menyulitkan pembaca ? Atau justru terelalu besar, sehingga boros
halaman? Apakah tipografinya terkesan terlalu kaku?
f.
Foto,
gambar, sketsa, grafik, tabel yang digunakan. Apakah foto dan gambar yang
dipasang itu jelas dipandang? Apakah grafik dan tabel yang dipasang mudah
dipahamidan efektif?
g.
Harga buku.
Apakah terlau mahal ?
2.
Aspek isi,
misalnya:
a.
Apa pokok
pikiran yang diajukan penulis? Data dan argumen apa saja yang ia ajukan untuk
mendukung pokok pikiran tersebut?
b.
Apakah pokok
pikiran, argumen, data, dan ide-ide yang tertuang dalam buku itu cukup
orisinal? Pendekatan atau metodologi apa yang ia gunakan dalam membahas masalah
dan pokok pikiran dalam buku itu?
c.
Adakah
unsur, pendekatan, persfektif, atau pengetahuan baru, yang bisa diperoleh
dengan membaca ini? Ataukah isinya sama saja seperti buku-buku lain yang telah
lebih dahulu beredar ?
d.
Apakah
isinya relevan demean konteks situasi yang dihadapi bangsa indonesia saat ini ?
e.
Apa
kontribusi buku ini dalam memperkaya hasanah ilmu pengetahuan tertentu yang
terkait demean tema buku ini?
f.
Apakah buku
ini disusun secara cermat, teliti, mendalam, atau terkesan ceroboh dan
tergesa-gesa?
g.
Apakah
sistematika pembahasan dalam buku ini bersifat logis, teratur, dan memudahkan
pembaca untuk memahami, atau justru sebaliknya, berbelit-belit, dan
membingungkan?
h.
Adakah
kesalahan fakta, data, analisis, dalam buku ini, apakah datanya falid, apakah
penulis kritis dalam melihat permasalahan?
i.
Apa tujuan
pengarang menulis buku ini? Apakah tujuan itu tercapaidengan terbitnya buku
ini ?
j.
Apakah pengarang memiliki kompetensi yang
cukup untuk menulis buku ini ? Seorang sosiolog tentu akan dipertanyakan
kredibilitasnya jika ia menulis buku ilmu bedah kedokteran.
k.
Siapa khalayak
pembaca buku ini? Apakah isi buku ini bersifat terlalu mendalam, sehingga lebih
tepat untuk pembaca tertentu yang memang memiliki kualifikasi khusus(kalanagan
akademis atau profesional), atau buku ini cocok juga untuk pembaca yang lebih
awam.
Contoh Resensi Buku 1
IDENTITAS BUKU
Judul
buku : Dasar-dasar ilmu
politik –edisi revisi-
Tebal buku :
543 halaman
Ukuran
buku :15x23
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Utama
Terbit : Februari 2008
Cetakan : keempat , Oktober 2009
ISBN : 978-979-22-3494-7
Jumlah
halaman : xxvii + 517 halaman
Jumlah
bab : 10 Bab
Harga
buku : Rp 68.425
Desain
Cover : Pagut Lubis
Perwajahan
Isi : Muhammad Riyadh, Ryan
Pradana
Jenis
Cover : Soft cover
Text
bahasa : Bahasa Indonesia
UlASAN
Buku ini berjudul Dasar-dasar Politik yang diperuntukkan untuk Perguruan Tinggi program studi ilmu politik, agar dapat dipelajari sebagai sumber pengetahuan dan mahasiswa dapat mendalami pelajaran ilmu politik secara luas. Buku ini ditulis oleh Prof. Miriam Budiardjo, dimana dalam buku ini, mahasiswa dapat belajar aktif melalui aktifitas di kampus.
Buku ini berjudul Dasar-dasar Politik yang diperuntukkan untuk Perguruan Tinggi program studi ilmu politik, agar dapat dipelajari sebagai sumber pengetahuan dan mahasiswa dapat mendalami pelajaran ilmu politik secara luas. Buku ini ditulis oleh Prof. Miriam Budiardjo, dimana dalam buku ini, mahasiswa dapat belajar aktif melalui aktifitas di kampus.
Pada bagian pertama, membahas mengenai sifat, arti dan hubungan ilmu politik
dengan ilmu pengetahuan. Ilmu politik lahir dan
berkembang dengan cabang-cabang ilmu social lainnya yaitu pada abad ke-19.
Politik adalah ilmu yang mempelajari tentang politik atau kepolitikan sedangkan
politik sendiri adalah usaha menggapai kehidupan yang baik. Menurut Miriam
budiardjo politik sebagai berbagai macam kegiatan yang terjadi di suatu negara
yang menyangkut proses penentuan tujuan dan bagaimana cara mencapai tujuan
tersebut. Sebagai ilmu pengetahuan politik memberikan penjelasan tentang
tatacara dan bagaimana politik berlangsung.
Bagian kedua dari buku ini mempelajari mengenai konsep-konsep
politik. Bahasan dan generalisasi dari
fenomena yang bersifat politik .
Bagian
ketiga membahas mengenai berbagai
pendekatan dalam ilmu politik. Dalam
pendekatan ini negara menjadi fokus pokok, terutama segi konstitusional dan
yuridisnya. Bahasab tradisional menyangkut antara lain sifat dari undang-undang
dasar, masalah kedaulatan, kedudukan dan kekuasaan formal serta yuridis dari
lembaga-lembaga kenegaraan seperti parlemen, badan eksekutif, dan badan
yudikatif. Dengan demikian pendekatan tradisional ini mencakup baik unsul legal
maupun institusional.
Bagian
keempat membahas mengenai demokrasi.
Dalam demokrasi ada konsep mengenai demokrasi konstitusional, demokrasi
parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila dan demokrasi
rakyat.Demokrasi di Indonesia telah mengalami paasang surut . Selama 25 tahun
Indonesia memiliki masalah pokok yakni bagaimna dalam masyarakat yang beraneka
ragam pola budayanya mempertinggi tingkat kehidupan ekonomi disamping membina
suatu kehidupan sosial dan politik yang demokratis .
Bagian
kelima membahas mengenai
komunisme,demokrasi menurut terminology komunisme, dan perkembangan
post-komunisme. Golongan komunis selalu bersikap ambivalen terhadap negara.
Marx, yang dimana-mana dihadapkan dengan aparatur kenegaraan yang dianggap
menghalangi cita-citanya, berpendapat negatif terhadap negara. Bentuk khusus
demokrasi yang memenuhi fungsi dictator proletar. Bentuk khusus ini berkembang
di Negara-negara Eropa Timur seperti Cekoslovakia, Polandia, dll.
Bagian
keenam membahas tentang Undang-Undang
Dasar. UUD merupakan suatu perangkat peraturan yang menentukan kekuasaan dan
tanggung jawab dari berbagai alat kenegaraan . UUD juga menentukan batas-batas
berbagai pusat kekuasaan itu dan memaparkan hubungan-hubungan di antara mereka.
Bagian
ketujuh membahas mengenai HAM. Dalam
sidang komisi HAM , kedua jenis hak asasi manusia dimasukan sebagai hasil
kompromi antara Negara-negara barat dan Negara-negara lain, sekalipun hak
politik lebih dominan. Hak asasi manusia di Indonesia telah mengalami pasang
surut . sesudah dua periode represi ( rezim soekarno dan rezim soeharto),
reformasi berusaha lebih memajukan hak asasi. Akan tetapi dalam kenyataannya
harus menghadapi tidak hanya pelanggaran hak secara vertical tetapi juga
horizontal.
Bagian
kedelapan membahas tentang pembagian
kekuasaan Negara vertical dan horizontal. Pembagian kekuasaan menurut tingkat
dapat dinamakan pembagian kekuasaan secara vertical, yaitu pembagian kekuasaan
antara beberapa tingkat pemerintahan atau dapat juga dinamakan pembagian
kekuasaan secara territorial. Persoalan sifat kesatuan atau sifat federal dari
sesuatu Negara sungguhnya merupakan bagian dari suatu persoalan yang lebih
besar, yaitu persoalan integrasi dari golongan-golongan yang berada dalam suatu
wilayah.
Bagian
kesembilan mengenai Badan Eksekutif,
Legislatif, dan Yudikatif. Eksekutif yakni Badan yang bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan undang undang yang dibuat oleh Legeslatif dan
aturan-aturan turunannya, termasuk memperjelas/menjabarkan agar undang undang
tsb bisa dilaksanakan dan dimengerti oleh masyarakat. Jika samapai sekarang
yang dibicarakan adalah partisipasi yang relatif mudah dapat di ukur
berdasarkan hasil pemilihan umum perlu di perhatikan bahwa ada bentuk
partisipasi lain yaitu melalui kelompok-kelompok. Mengapa kelompok ini muncul?
Salah satu sebab adalah bahwa orang mulai menyadari bahwa suara satu orang
sangat kecil pengaruhnya terutama di negara-negara yang penduduknya berjumlah
besar.
Bagian
kesepuluh membahas tentang sejarah
perkembangan partai politik. Partai politik di Indonesia yang telah berdiri
sejak masa kolonial telah menjalani beberapa fase perkembangan sesuai dengan
rezim yang membentuknya. Pada masa kolonial, partai politik lahir sebagai
manifestasi bangkitnya kesadaran nasional. Pada masa Jepang mengalami penurunan
drastis dengan dibubarkannya partai-partai ini karena penjajah Jepang tidak
mentolelir dan melarang semua kegiatan politik.
KEKUATAN & KELEMAHAN BUKU
Buku
ini mengantarkan mahasiswa yang berminat ke dalam dunia ilmu politik. Dalam
buku ini dibahas konsep-konsep seperti politik (politics), kekuasaan, pembuatan
keputusan, (decicion making). Di samping itu, dibahas pula fungsi undang-undang
dasar, kelompok-kelompok politik, dewan perwkilan rakyat, baik di dalam maupun
di luar Indonesia, serta hak-hak asasi dan perkembangannya di PBB. Bahan-bahan
yang disajikan dalam edisi kedua ini telah mengalami perbaikan dan lebih
lengkap.
Kekuatan
buku ini adalah buku ini di tulis oleh Prof. Miriam Budiarjo adalah tokoh luar
biasa. Beliau seorang ilmuwan politik senior sekaligus pelaku politik.
Pemikirannya telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan
ilmu politik di Indonesia, beliau ialah putri nomor tiga Prof. Dr. Saleh
Mangundiningrat (1896-1962), dokter Keraton Kesunanan Solo dan intelektual
disegani sebagai rektor pertama Universitas Cokroaminoto awal 1960-an. Prof.
Miriam Budiarjo ini pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) periode 1974–1979, di FISIP UI inilah
Prof. Miriam Budiarjo berkhidmat dan buku karangannya yang berjudul Dasar-dasar
Ilmu Politik kini telah menjadi buku wajib mahasiswa Ilmu politik di Indonesia.
Kelemahan
buku ini hanya terdapat pada kata-kata yang berkelit dan tidak langsung mudah
di mengerti juga pada pengemasan buku yang tebal dan tidak berwarna membuat
pembaca enggan membacanya.
Dari
hal di atas penulis dapa menyimpulkan bahwa buku ini bagus untuk siapapun yang
ingin mempelajari politik lebih dalam lagi, karena buku ini banyak membahas tentang
apa itu politik dan apa saja yang ada di dalamnya, oleh karena itu kita bisa
lebih tahu tentang politik baik di Indonesia maupun di dunia.
Contoh Resensi 2
Judul
buku : Memajukan
Demokrasi Mencegah Disintegrasi
Penulis : Nicolaus Teguh Budi
Harjanto
Tebal buku :
190 halaman
Ukuran
buku :18,5
Penerbit : PT Tiara Wacana Yogya
Terbit : September 1998
Cetakan : Pertama, September 1998
ISBN : 979-8120-79-5
Jumlah
halaman : xi + 190 halaman
Jumlah
bab : 5 Bab
Desain
Cover : Nur Edi Sudjatmiko
Perwajahan
Isi : Rosidik dan Ramyari
Text
bahasa : Bahasa Indonesia
Ulasan
Buku
ini berisi tentang sebuah wacana pembangunan politik yang dimuat dalam judul
Memajukan Demokrasi Mencegah Disintegrasi. Dalam buku ini hanya berisi dialog
keilmuan, tidak berupa aplikasi analitik terhadap permasalahan atau studi kasus
tertentu. Oleh karenanya buku ini akan menjadi karya sia-sia apabila ternyata
tidak mampu membawa ke pemahaman yang lebih baik mengenai apa itu pembangunan
politik. Sebaliknya, buku ini akan bernilai lain bila mampu menghadirkan
pertanyaan-pertanyaan kritis atas keadaan politik kita saat ini. Tugas analisa
keadaan menjadi tanggung jawab bersama kita semua yang masih peduli dengan masa
depan Negara ini.
Akhir decade 80-an, dunia ditandai
dengan terjadinya sejumlah perubahan signifikan dalam konstelasi politik
internasional. Terutama adalah fenomena runtuhnya Uni Soviet yang kemudian
diikuti dengan proses disintegrasi dibeberapa Negara sosialis lainnya.
Disintegrasi ini pada akhirnya kemudian melahirkan sejumlah Negara bangsa atau
nation state.
Tidak satupun strategi pembangunan
yang secara eksplisit menyebut sebagai pembangunan yang inegalitarian. Meskipun
pada model pembangunan konvensional secara implisit dapat ditemui adanya
inquality, baik secara sosial maupun regional.
Semenjak usainya perang dunia II,
masyarakat dunia memasuki era nation building. Berjuta-juta penduduk menjadi
warga dari Negara yang baru merdeka, dan rakyat di Negara yang telah merdeka
mengalami transisi menuju masyarakat Negara modern. Hal ini telah membawa
banyak permasalahan, khususnya di Negara baru merdeka. Walaupun begitu, pada
keduanya terdapat permasalahan yang hampir sama, terutama dalam rangka
membentuk elemen-elemen organisasi impressif, yang mencerminkan bentuk modern
nation state.
Buku ini tergolong buku materinya disajikan dengan bahasa yang lugas dan
ilustrasi yang menarik. Buku ini berbalur ungkapan santun dengan bahasa yang
komunikatif sehingga mudah dipahami. Selain itu, buku ini juga didukung dengan
tampilan tata letak yang baik, disain dan ilustrasi yang menarik dengan
memperhatikan tingkat pemahaman.
Buku ini memiliki banyak keunggulan yang disajikan dibandingkan dengan buku
lain yakni, memiliki daftar simbol yang merupakan kumpulan simbol atau rotasi
beserta penjelasannya yang dilengkapi nomor halaman kemunculannya..
Pada buku ini, disamping memiliki keunggulan, namun juga terdapat
kekurangan didalamnya yakni, gambar yang disajikan pada buku ini tidak berwarna
sehingga bisa saja dapat menimbulkan kurangnya minat para pembaca dalam mengkaji buku tersebut. Selain itu, kualitas kertas buku yang
digunakan juga kurang bagus sehingga mudah cacat atau robek.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis
praktis merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat
produktif; artinya kemampuan menulis ini merupakan kemampuan yang menghasilkan;
dalam hal ini menghasilkan tulisan. Menulis merupakan kegiatan yang memerlukan
kemampuan yang bersifat kompleks. Kemampuan yang diperlukan antara lain
kemampuan berpikir secara teratur dan logis, kemampuan mengungkapkan pikiran
atau gagasan secara jelas, dengan menggunakan bahasa yang efektif, dan
kemampuan menerapkan kaidah tulis-menulis dengan baik.
Keterampilan
menulis dapat diterapkan dalam penulisan resensi, penulisan makalah dan
penulisan ringkasan.
Keterampilan menulis resensi merupakan salah satu keterampilan menulis
yang patut ditekuni.Resensi juga termasuk karangan yang bersifat faktual
informative dan termasuk ke dalam rumpun ulasan.Dalam resensi, penulis harus
menyampaikan dua hal penilaian atau pertimbangannya, yakni nilai literer dan
manfaat untuk hidup.Nilai kebermanfaatan merupakan hasil interprestasi penulis
terhadap isi buku.
Dalam meresensi sebuah karya
tulisan pasti menilai kekurangannya atau kelebihannya, dengan tujuan pembaca dapat
merangsang hasil karya tersebut. Untuk meresensi sebuah karya tulis perlu
adanya langkah-langkah dan dasar untuk meresensi sebuah buku, yang mana semua
itu saling memahami sepenuhnya tentang isi buku yang akan diresensi. Dalam
meresensi juga terdapat penggunaan bahasa yang singkat, padat dan jelas.
Terdapat juga pokok-pokok yang menjadi sasaran dalam meresensi buku yang mana
salah satu dari sasaran itu adalah mengulamng tentang keunggulan dan kelemahan
buku. Membuat judul semenarik mungkin dan betul-betul mencerminkan isi buku
termasuk hal-hal penting dalam sebuah resensi termasuk juga mencantumkan
identitas sebuah buku yang menutup biasanya dengan memberikan saran atau sasaran sebuah buku yang diresensi.
3.2 Saran
·
Untuk mahasiswa
Agar mempelajari lebih lanjut mengenai keterampilan menulis praktis dan
penerapannya dalam penulisan karya tulis lain.
·
Untuk umum
Agar lebih memperhatikan dan mendalami keterampilan menulis sehingga dapat menerapkannya
sejak dini.
DAFTAR
PUSTAKA
Alek. Achmad. 2012. Bahasa Indonesia untuk
Perguruan Tinggi. Jakarta: Prenada Media
Group.
Enung. K Rukiati, dkk. 2014. Bahasa
Indonesia Panduan Karya Tulis Ilmiah.
Bandung:
Cv Insan Mandiri.
Hoerudin, Cecep
Wahyu.2015. Mata Kuliah Umum Pengembangan Karakter:Bahasa
Indonesia. Bndung: Cv. Insan Mandiri.